Beranda Radar News Cak Heri, Sarjana Sastra Arab Yang Bergelut di Bidang Pertanian

Cak Heri, Sarjana Sastra Arab Yang Bergelut di Bidang Pertanian

87
0
BERBAGI

Ciptakan Pupuk, Obat dan Bibit Murah. Menjadi petani apakah merupakan kebanggaan? Agak sulit menjawab hal itu. Namun di pelatihan yang digelar Bengkel Bumi dan SKH Trans Lampung semua mudah sekali terjawab. Semua bangga menjadi petani. Kok bisa?

Adijaya, Lampung Tengah

Saat mengikuti pelatihan kemarin (9/7) di markas Bengkel Bumi Lampung yang terletak di Adijaya, Lampung Tengah, terlihat sekali petani begitu antusias. Bagaimana tidak urusan yang selama ini membelit, mulai dari pupuk, obat tanaman, dan lain sebagainya hampir semuanya sirna. Petani disadarkan ternyata mereka bisa membuat pupuk dan obat tanaman serta bibit sendiri.

Mentor, innovator sekaligus pencetus Bengkel Bumi Heri Darussalam atau lebih dikenal dengan Cak Heri bahkan memberikan pencerahan luar biasa membuat petani semangat untuk terus bertani. ”Petani itu adalah pekerjaan mulia. Bayangkan hanya petani yang meski belum tahu kapan panen, hasilnya seperti apa tetapi terus tetap melaksanakan tugasnya yakni bertani. Petani itu tingkat tawakallnya tinggi sekali. Jadi kudu bangga jadi petani, kita jadi penyangga kehidupan,” ujarnya.

Petani yang mengikuti pelatihan sontak bertepuk tangan. Tapi lanjut pria asal Metro ini ketawakallan tersebut terus diuji dengan keterpurukan petani, kenapa? Petani tidak mandiri. Mulai dari bibit, obat, lahan, bahkan hingga panenpun petani tidak mandiri. ”Saat panenpun yang menentukan harga bukan petani, inikan logika terbalik,” ujarnya yang diamini peserta.

Lalu apa solusi untuk itu. Bengkel bumi memiliki cara, paling tidak menurut Cak Heri sebagian biaya yang sebelumnya muncul bisa dikurangi. Seperti pupuk dan obat. Ini sudah sangat lumayan sekali membantu petani.

Dia menjelaskan ada petani yang bertestimoni untuk lahan ukuran 3,700 meter persegi hanya mengeluarkan biaya untuk pupuk dan obat hanya Rp70 ribu. Loh kok bisa? Bisa saja petani bisa membuat pupuk dan obat sendiri. Sehingga tidak tergantung pada pupuk buatan dan obat buatan pabrik. ”pupuk kimia yang sudah dibeli sampe sekarang malah tidak pernah lagi dipake,” terang Toni, petani yang sudah mencoba produk buatan dirinya sendiri.

Cak Heri menjelaskan kegiatan bengkel bumi memang dimaksudkan untuk memberikan pencerahan kepada para petani dengan memberikan ilmunya langsung kepada petani. Caranya dengan memanfaatkan bahan bahan yang bisa didapatkan petani di sekitarnya. Karena itu meski sulit dia menjelaskan petani kita patut diacungi jempol, semangatnya. Walaupun secara jumlah tidak banyak. ”Petani kita luar biasa meski sedikit yang percaya tapi saya tidak menyerah. Karena memang sulit ya karena pupuk kimia pergerakannya instant tapi kami menyebutnya JST (Jamu Sehat Tani) pergeraknya simultan. Tidak hanya memperbaiki hasil panen tapi juga lingkungan. Karena apa bahan yang digunakan tidak ada kimianya sama sekali. Tanah yang sudah menggunakan JST akan banyak dihuni oleh mikro organisme dan hidup,” terangnya.

Lalu apakah mahal JST itu. Cak Heri sembari tertawa sangat tidak mahal bahkan lebih mahal pulsa hpnya. ”Pada kasus tertentu HPPnya JST hanya Rp1.800 saja perliternya. Sedangkan untuk menggunakan pada tanaman karet hanya perlu sekitar 10 liter, bayangkan berapa hanya biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk menghilangkan biaya konvensionalnya. Ini lah yang selalu kami sebut dengan keutungan untuk petani,” terang Sarjana Sastra Arab.

Soal gelar akademisi ini terang Cak Heri yang memulai kiprahnya sejak tahun 2004 ini adalah kendala utama. ”Saya sarjana sastra dari Madinah. Cinta saya pada pertanian ini karena saya belajar agama ternyata di dalam Al-quran itu semua tersedia. Selain tentu karena keprihatinan terhadap nasib petani yang selalu terpuruk karena terbelenggu system yang selalu menjerat mereka. Karena itu saya memulainya lagi di Jogja. Disana saya lebih diterima karena mereka melihat hasil,” terangnya.

Karena itu lanjut dia selalu pelajaran yang ditawarkan adalah bagaimana petani bisa terus bersahabat dan menjaga kondisi bumi lebih baik. Caranya dengan terus membuat kondisi tanah menjadi baik dengan tidak menggunakan bahan-bahan kimia. Kondisi swasembada pangan itu harus dimulai dengan perbaikan tanah. Sedangkan pupuk kimia dan obat-obat kimia tidak bisa. Karena itu lanjut dia harus dilakukan revitalisasi lahan. Akibatnya jika lahan sudah diperbaiki maka dengan sendirinya produksi pertanian naik. ”Disubang sudah kita buktikan dengan perbaikan lahan maka hasil pertanian naik signifikan,” terangnya. (nys) (bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here