Beranda Uncategorized Nasib Angkot Di Ujung Tanduk

Nasib Angkot Di Ujung Tanduk

Angkot Bukan Lagi, Pilihan Angkutan Pelajar

285
0
BERBAGI

Dalam kurun satu dekade ini, keberadaan angkutan umum dalam kota atau antar kota semakin terpinggirkan. Kendaraan yang sempat menjadi primadona, keberadaanya kini semakin dipandang sebelah mata. Tujuh puluh persen, sopir angkutan umum pilih pekerjaan lain.

 

Laporan Raden Yusuf/Metro

 

BRAKK! Suara benturan pintu angkot (angkutan umum, Red) berwarna orange itu ketika diturup. Diterik matahari, pria berjenggot itu mengusap eluh di dahinya setelah keluar dari ruang setir. Siang itu persis di pojok Apotek Bintang dekat Chandra Supermarket, Kota Metro dia memarkirkan benda berwarna orange kesayanganya itu.

 

Kota Metro merupakan, daerah sentral perdagangan. Tak ayal ratusan angkot berwarna-warni seringkali kita lihat, warna-warni angkot sesuai dengan daerah tujuanya. Daerah satelit Kota Metro seperti Trimurjo, Wates, Pekalongan, Sukadana, Sekampung, dan lainya adalah rute dari angkutan umum itu sendiri.

 

Tak seperti beberapa tahun yang lalu. Nampaknya angkot bukan lagi kendaraan primadona bagi pelajar. Terbukti, di jam berangkat atau pulang angkot tak lagi dipenuhi pelajar berseragam sekolah.

 

Wartawan koran ini sempat merasakan, rasanya naik angkot ketika berangkat atau pulang sekolah, bahkan lebih serunya ketika angkot penuh sesak sampai sampai harus bergelantungan di pintu sekitar tahun 2004-an

 

Kini angkot bukan lagi kendaraan primadona. Serbuan kendaraan roda dua mematikan harapan bagi para sopir angkot yang terus konsisten menggeluti profesinya.

 

Terhitung dari ratusan mobil angkot, dalam satu dekade ini satu per satu menghilang. Kini jumlah mobil angkot bisa diitung jari. Banyak sopir angkot memilih usaha lain ketimbang menjadi sopir angkot, bahkan tak jarang memilih menjadi sopir pribadi.

 

Untuk biaya operasional sehari-hari saja, banyak sopir angkot masih ketar ketir. Contoh, Toyibin (45) pria yang menjadi sopir angkot sejak puluhan tahun silam ini mengaku usahanya kini menurun drastis.

 

Pria kelahiran Kota Metro ini mengaku terpaksa masih menggeluti usahanya. “Terpaksa mas, bisanya ini. Kalau saya mau nguli jelas lebih berat lagi,” keluhnya.

 

Toyibin pria yang menjadi sopir angkot Mulyojati ke Metro ini mengaku hanya bisa pasrah. “Cuma bisa pasrah mas, berdo’a sama Allah,” ujarnya.

 

Menurut dia, sekarang anak sekolah banyak yang menggunakan kendaraan pribadi. “Sekarang anak sekolah apa da yang mau naik angkot mas? Lihat saja motor sudah murah, lima ratus ribu saja sudah bisa bawa pulang motor,” ujarnya.

 

Saat ini, menurut dia, penghasilan tidak bisa diprediksi. Untuk sehari saja kadang hanya cukup untuk membeli bahan bakar. Sehari, menurut dia, penghasilan kotor kalau lagi ramai hanya Rp 100 ribu. “Seratus ribu, bensin lima puluh, makan dan rokok mas?” Keluhnya.

 

Pendi salah satu sopir angkot juga mengakui hal yang sama. “Sekarang banyak motor mas murah-murah, apalagi dari sebrang, mobil saja murah,” tuturnya.

 

Ka Upt Terminal Kota Metro, melalui Kasug TU Ely Irma Permata Sari SP mengatakan, jumlah angkot saat ini mengalami penurunan drastis. “Sepi gak ada penumpang sekarang, angkot yang aktif bisa dihitung jari mas,” ujarnya.

 

Menurut dia, kepadatan angkot ada di hari  lebaran saja. Dan  itupun untuk mengangkut barang belanjaan.

 

“Ini untungnya angkot sendiri, kalo bawa punya orang nanges mas,” ujar Toyibin.

Menurut Toyibin, 95 persen pengusaha dan sopir angkot sudah gulung tikar.

 

Toyobin dan rekan sesama sopir angkot lainya hanya bisa pasrah dan menyerahkan nasibnya kepada sang pencipta. Dan berharap pemerintah mempunya kebijakan agar daya saing angkot masih bisa bertahan di tengah gempuran kendaraan roda dua maupun kendaraan online. (suf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here