Beranda Politik Deklarasi Arinal-Nunik Mengubah Konstelasi Pilgub

Deklarasi Arinal-Nunik Mengubah Konstelasi Pilgub

212
0
BERBAGI

Oleh Hermansyah Albantani

Wartawan Utama/Pemimpin Redaksi Radar Metro

 

LAMPUNG – Bendera start Pemilihan Gubernur (Pilgub) Lampung 2018 sebentar lagi diangkat. Berdasarkan agenda KPU, pendaftaran bakal calon gubernur dan bakal calon wakil gubernur akan dibuka pada 8 sampai 10 Januari. Artinya, tersisa tujuh hari lagi sebelum pendaftaran dibuka. Hingga saat ini, baru Arinal Djunaidi dan Chusnunia Chalim (Nunik) yang mendeklarasikan diri maju sebagai pasangan bacagub dan bacawagub Lampung. Saat ini yang sudah fix, mereka didukung Golkar dan PKB. Sementara partai politik (parpol) yang sudah memberikan surat tugas ke Arinal seperti Gerindra dan PAN masih belum mengambil sikap atas deklarasi tersebut. Apakah akan tetap mendukung atau justru berubah haluan. Apalagi PAN yang santer menginginkan posisi bacawagub karena kursi mereka di parlemen lebih banyak dari PKB, yakni delapan kursi berbanding tujuh kursi.

Sedangkan bakal calon gubernur lain, seperti Mustafa, M Ridho Ficardo, dan Herman HN masih belum memberikan sinyal kapan akan deklarasi. Berdasarkan informasi dan analisa politik yang terjadi dan berkembang beberapa pekan terakhir, deklarasi Arinal-Nunik menjadi mimpi indah bagi bakal calon gubernur khususnya seperti Mustafa dan Ridho. Peluang keduanya menyalip di tikungan dengan menambah partai koalisi semakin besar. Gerindra (10 kursi) dan PAN (8 kursi) di parlemen jelas tidak ingin dikangkangi oleh PKB yang hanya memiliki tujuh kursi di parlemen. Hal ini yang kemudian menjadi peluang yang dibaca Mustafa dan Ridho.

Melihat latar belakang politik, Gerindra kemungkinan besar akan merapat ke koalisi Ridho yang saat ini sudah mengantongi Demokrat dan PPP. Kemungkinan Gerindra merapat ke Mustafa lebih kecil, karena Ketua DPD Gerindra Lampung Gunadi Ibrahim pernah dikalahkan telak saat pemilihan Bupati Lampung Tengah 2015-2020 lalu. Terlepas dari politik itu dinamis, namun menggabungkan Gerindra ke Koalisi Kece seperti menjadikan Herman HN sebagai calon wakil gubernur Ridho. Sangat sulit kalau tidak mau dibilang mustahil.

Sementara PAN sama besar peluangnya merapat ke Mustafa atau ke Ridho. Jika melihat sejarahnya, PAN saat dipimpin Bachtiar Basri sangat dekat dengan Ridho. Namun seiring dengan berpindahnya tongkat komando ke adik Ketum Zulkifli Hasan, yakni Zainuddin Hasan, peta pun berubah. Sebelum Arinal dan Nunik deklarasi, PAN memberikan surat tugas ke Arinal. Setelah merasa dikhianati karena tidak diajak diskusi saat pemilihan Nunik sebagai bacawagub Arinal, PAN ngamuk dan mengubah peta dan arah dukungan politiknya. DPP PAN terang-terangan meminta minimal kadernya menjadi bacawagub dan siap berkoalisi dengan siapa pun, termasuk dengan Ridho atau Mustafa.

Sinyal PAN akan bergabung ke Koalisi Kece pun menjadi dilema bagi Mustafa. Hal inilah yang disinyalir deklarasi Mustafa-Jajuli belum juga deklarasi. Karena ada bergaining PAN akan masuk ke Koalisi Kece namun masih alot dalam pembahasan posisi bacawagub, apakah dari PAN yang menyodorkan Helmi Hasan dan Zainuddin Hasan, atau dari PKS yang sudah lebih dulu menyodorkan Jajuli. Oleh sebab itu, Mustafa terus membangun komunikasi untuk mengambil jalan tengah agar Koalisi Kece semakin solid dan parpol pendukungnya bertambah.

Tidak hanya Gerindra dan PAN yang menjadi tarik menarik usai Arinal-Nunik dideklarasikan. Tapi juga PDI Perjuangan. Santer kabar PDI Perjuangan akan mendukung Ridho dan menempatkan posisi Muchlis Basri sebagai bacawagubnya. Jika benar seperti ini komposisinya, maka Herman HN dipastikan tidak maju melalui PDI Perjuangan. Tapi bisa saja membuat koalisi baru dengan Gerindra dan PAN, yang kemudian memunculkan Herman HN sebagai bacawagub. Karena selama ini komunikasi antara Gerindra dan Herman HN juga terus berjalan. Apalagi Gunadi Ibrahim pernah mengatakan, kadernya di akar rumput ada juga yang menginginkan agar mencalonkan Herman HN. Hal ini bisa saja nanti Gerindra menyodorkan Pattimura. Atau yang lebih ekstrim lagi, Herman HN keluar dari PDI Perjuangan dan menjadi kader Gerindra. Dengan demikian, posisi bacawagub akan diberikan kepada PAN. Koalisi dua partai ini cukup untuk maju dalam Pilgub Lampung. Apalagi, jika dalam pilgub kali ini PDI P tidak jadi mencalonkan Herman HN, berarti sudah dua kali pilgub ia dilukai. Sebelumnya tahun 2014 dimana arah dukungan PDI P justru ke Berlian Tihang, bukan ke dirinya.

Tidak ada yang tidak mungkin dalam politik. Ada ungkapan yang menyebutkan tidak ada teman abadi dan tidak ada musuh abadi dalam politik. Yang ada adalah kepentingan abadi. Apa saja bisa terjadi, termasuk yang kita lihat tidak mungkin sekali pun. Jadi apa kejutannya dalam Pilgub Lampung? Herman HN jadi kader Gerindra? Mustafa-Zainuddin Hasan,  atau Ridho-Herman HN? Kita lihat saja dalam sepekan ke depan, dinamika terus berubah. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here