Beranda Politik Seberapa Besar Dampak Nunik Mendongkrak Suara Arinal?

Seberapa Besar Dampak Nunik Mendongkrak Suara Arinal?

290
0
BERBAGI

Oleh Hermansyah Albantani

Wartawan Utama/Pemimpin Redaksi Radar Metro

LAMPUNG – Idealnya dalam pilkada, calon wakil bupati, wakil walikota, atau wakil gubernur harus memiliki dampak yang besar bagi aktor utamanya, yakni calon walikota, calon bupati, atau calon gubernurnya. Karena di Pilgub Lampung ini baru Arinal Djunaidi dan Chusnunia Chalim (Nunik) yang deklarasi, maka yang diulas adalah pasangan ini. Termasuk Golkar dan PKB yang merupakan partai utama yang menjadi motor penggeraknya.

Kita ulas sosok Arinal Djunaidi. Mantan birokrat yang terakhir posisinya menjabat sebagai Sekdaprov ini, awalnya tidak memiliki gaung yang luas untuk dicalonkan sebagai bakal calon gubernur. Tapi semua itu berubah setelah ia mengambil alih kursi Ketua DPD I Golkar Lampung dari tangan Alzier Dhianis Thabrani. Pengambil alihan kursi ini juga tak lepas dari dinamika politik Golkar di tingkat pusat. Bisa dikatakan, sangat sulit jika tidak mau dibilang mustahil menggulingkan Alzier jika masih Aburizal Bakrie yang menjadi Ketua DPP Golkar. Namun seiring dinamika politik, akhirnya Aburizal tergusur dan Alzier pun tumbang dan digantikan Arinal.

Sejak saat itu, Arinal seperti tidak pernah berhenti menginjak gas mesin politiknya yang disebut-sebut konon katanya ada penyokong utamanya. Terbukti hingga kini Arinal maju tidak terbendung untuk maju dalam Pilgub Lampung 2018. Bahkan Arinal menjadi bakal calon gubernur pertama yang mendeklarasikan diri yang lengkap dengan pasangannya. Pasangannya tak lain adalah Nunik yang merupakan kader PKB.

Sebelum mereka deklarasi, ada survei yang menyebutkan tingkat elektabilitas Arinal masih di bawah calon lain, misalnya Mustafa dan Herman HN. Berdasarkan hasil survei Rakata Institute yang mengadakan survei medio 30 November 2016-4 Desember 2017. Survei tersebut menggunakan metode stratified random sampling. Sampel berasal dari kabupaten/kota di Lampung yang terdistribusi secara proporsional, responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih. Adapun tingkat kepercayaan 95% dengan margin of error sekitar 5%.

Hasilnya, elektabilitas Arinal hanya 14,75% atau masih di bawah Mustafa yang memiliki angka 18,25% dan Herman HN 17,75%. Arinal hanya unggul dari Ridho yang memiliki elektabilitas 12%. Akan tetapi, persaingan ketat keempat kandidat ini akan membuat peta politik terus berubah. Sebab, masih ada swing voters yang cukup tinggi, yakni sekitar 37,25%.

Namun belum ada survei terbaru yang mengestimasi calon dengan pasangannya. Di sini, posisi bakal calon wakil gubernur sangat penting, mengingat besarnya swing voters. Bagaimana Nunik? Jika dirunut, Nunik memenangi pilkada Lampung Timur dinilai sebagian orang berbau keberuntungan. Pasalnya pada saat itu, salah satu calon kuat justru terganjal maju karena pasangannya meninggal dunia. Sehingga suara terpecah dan Nunik menangguknya, tanpa menafikkan kerja mesin partai.

Saat ini, basis massa Nunik di Lampung Timur pun belum begitu solid. Ditambah lagi dengan perpecahan di tubuh PKB terkait pengusungannya sebagai bacawagub. Tidak tanggung-tanggung, dua pentolan PKB Lampung Khaidir Bujung yang merupakan Ketua Lembaga Pemenangan Pemilu (LPP) DPW PKB Lampung dan Midi Iswanto anggota DPRD Lampung yang selama ini membantu Nunik menjadi Bupati, kompak tidak mendukung duetnya bersama Arinal. Secara langsung, ini memecah suara PKB dan tidak solid, minimal simpatisan Khaidir Bujung dan Midi Iswanto. Secara tidak langsung, masyarakat akan menilai bagaimana mesin politik PKB dalam pilgub mendatang, seberapa dampaknya untuk mendongkrak suara Arinal? Ini harus jadi hitungan matang bagi Arinal dan tim. Apalagi Lamtim yang merupakan basis suara terbesar kedua setelah Lampung Tengah, menjadi target dari Mustafa. Hal itulah yang membuat Mustafa memilih Lamtim sebagai kabupaten tempatnya deklarasi dengan pertimbangan jumlah massa. Saat ini, kekuatan Nunik ada di media sosial. Hal itu ditunjukkan dengan seringnya Nunik berbagi aktivitas dengan followersnya di Instagram. Namun langkah ini pun sudah lebih dulu dirintis oleh calon lain, misal Ridho dan Mustafa yang tidak kalah jumlah followersnya.

Secara kasatmata, Nunik bisa membantu mendongkrak suara Arinal untuk pemilih pemula. Karena harus diakui, paras ayu, usia muda, dan luwes dalam bermedia sosial, menguntungkan Nunik memudahkan memperkenalkan dirinya ke anak muda yang diakui akan sulit dilakukan oleh Arinal. Namun juga harus diperhatikan pasangan ini untuk kampanye yang dilakukan karena bisa memengaruhi pilihan masyarakat. Mulai dari skandal susu hingga status pernikahan Nunik yang dianggap sebagian masyarakat belum terang benderang. Ini penting, karena adat ketimuran sangat menjunjung tinggi dari sisi moralitasnya.

Namun masih ada kesempatan hingga enam bulan ke depan untuk mendongkrak suara dan menggaet pemilih pemula. Politik masih sangat dinamis, sangat cair, dan kemungkinan berubah masih sangat besar. Sebagai awalan, deklarasi Arinal-Nunik cukup mengguncang politik Lampung. Serahkan kepada masyarakat yang akan memilih untuk lima tahun ke depan. Mari berlomba menunjukkan kinerja tanpa harus menjatuhkan orang lain. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here