Beranda Radar News Mapala Tak Seperti Yang Mereka Fikirkan

Mapala Tak Seperti Yang Mereka Fikirkan

Dok. LSM Ragapala/Angkatan Riak Belantara

159
0
BERBAGI

Mahasiswa pecinta alam atau yang lebih  familiar dikenal dengan sebutan “MAPALA” merupakan sekelompok mahasiswa yang bergerak di bidang lingkungan hidup dan beraktifitas di alam bebas. Para penggiat alam yang notabenenya adalah mahasiswa ini melakukan berbagai aktifitas yang berbau alam dan lingkungan demi kelestarian dan keseimbangan ekosistem alam.

Dewasa ini pandangan masyarakat sedikit sinis terhadap pecinta alam. Sosok seorang mahasiswa pecinta alam sering dikaitkan dengan hidup ketidakteraturan, brutal, pakaian yang seadanya, celana dengan banyak carikan dibagian lutut, jarang mandi dan beberapa labeling negatif lainnya. Pada hakikatnya kegiatan Mapala didasari oleh naluri dan hasrat berkegiatan di alam bebas, tanpa menghilangkan rasa tanggungjawab atas pelestarian alam yang telah dianugrahi Tuhan YME kepada kita.

Seorang anggota kelompok pecinta alam tidak pernah diajarkan bersikap brutal apalagi berbuat anarkis. Akan tetapi pada kenyataannya isu-isu yang berkembang di tengah masyarakat saat ini telah membentuk paradigma negatif tentang para penggiat alam. Isu-isu yang berkembang ini sedikit banyak telah memberi implikasi negatif, terhadap calon regenerasi muda di organisasi kelompok pecinta alam. Banyak orang tua yang melarang anak-anaknya untuk bergabung ke dalam organisasi pecinta alam. Para orang tua beralasan, mahasiswa yang bergabung dalam kelompok pecinta alam akan lama untuk menyelesaikan masa study di kampus serta senang bermain-main dengan maut di alam rimba.

Organisasi pecinta alam tidak pernah mengajarkan keberutalan seperti isu-isu yang berkembang di tengah masyarakat. Seorang Mapala diajarkan untuk mengalahkan rasa takut, disiplin, sabar, solid dalam persaudaraan, jiwa untuk bertahan hidup yang kuat serta jiwa sosial yang tinggi. Karena dalam aktualisasi gerakan, lembaga pecinta alam ini selalu berada di alam bebas. Kerasnya kehidupan rimba, gelapnya goa, dinginnnya puncak gunung dan  derasnya sungai tidak dapat dipisahkan dari kegiatan seorang Mapala. Seorang anggota Mapala tak mengenal siang atau malam, tak mengenal terik panas maupun hujan. Semua rasa takut dan rasa lemah yang ada di dalam jiwa harus dikalahkan oleh anggota Mapala itu sendiri. Ada hal penting yang diajarkan oleh lembaga pecinta alam pada anggotanya yaitu rasa tanggung jawab, kesederhanaan dan kedisiplinan.

Mapala Disiplin dan Bertanggungjawab

Mahasiswa pecinta alam diajarkan untuk memiliki sikap disiplin dan bertanggung jawab. Alam telah melatih para aktifis penggiat alam untuk selalu menghargai waktu, dalam kode etik petualang pun dikatakan “Kill nothing but time”  yang berarti kita dilarang untuk membunuh apapun kecuali waktu. Hal ini sebenarnya mengandung arti yang mendalam, ketika kita sedang melukukan kegiatan di alam bebas, selain kita dilarang membunuh hewan , tumbuhan serta pepohonan yang ada di hutan, kita juga dilarang untuk menyia-nyiakan waktu. Karena saat melakukan kegiatan di alam bebas satu detik saja kita lengah dan menyia-nyiakan waktu, kita akan mendapat kerugian bahkan nyawa dapat terancam. Contohnya ketika seorang pendaki terlalu bersantai dan membuang waktu saat melakukan pendakian, maka pendaki tersebut akan kemalaman diperjalanan dan tak dapat mencapai target sesuai ekspektasi yang diharapkan, bahkan lebih parahnya lagi pendaki tersebut dapat tersesat di alam rimba. Selain kedisiplinan, seorang anggota Mapala juga harus senantiasa bertanggungjawab dalam melakukan kegiatan apapun, seperti bertanggung jawab atas kelestarian dan tindakan tidak merusak ekosistem hutan. Hal sederhana tentang tanggungjawab lainnya, dapat kita lihat ketika seorang anggota Mapala harus bertanggung jawab atas keselamatan anggota rombongan lainnya yang ikut serta dalam pendakian, tanpa disadari rasa tanggungjawab ini memberikan implikasi rasa persaudaraan yang solid dan bagaiamana seorang anggota Mapala harus membuang ego dalam dirinya.

Mapala Bersahaja dan Tak Lekas Putus Asa  

Seorang anggota Mapala memang identik dengan pakaian yang ala kadarnya, hal itu bukan berarti seorang anggota Mapala hidup dalam ketidakteraturan dan tak memperhatikan kebutuhan jasmaninya. Akan tetapi, hal ini memberikan makna bahwasanya kita sebagai manusia harus senantiasa bersyukur, dengan apa yang kita miliki dan kita harus menjadi diri sendiri tanpa ada sedikitpun kepalsuan dalam jiwa seorang anggota Mapala. Di alam rimba seorang anggota Mapala terlatih untuk hidup sederhana, makan-makanan yang tersedia di alam serta memanfaatkan segala sesuatu yang tersedia di alam untuk bertahan hidup. Hal inilah yang melatih seorang anggota Mapala menjadi seorang sosok yang sederhana dan lebih mensyukuri nikmat serta karunia yang telah diberikan Tuhan YME. Kesederhanaan yang diajarkan oleh alam pun melekat sampai dikehidupan sehari-hari para anggota Mapala.

Selain sifat bersahaja anggota Mapala harus memiliki pendirian yang teguh dan tidak mudah putus asa. Keputus asaan bukanlah sebuah solusi untuk memecahkan sebuah masalah. Ketika sedang berada di alam rimba, kita haruslah berfikir dengan jernih apabila kita menemukan sebuah masalah seperti tersesat dan tak tau arah. Ketakutan harus dilawan dengan keyakinan dan pikiran yang tenang, hati dan pikiran harus tetap dalam keadaan seimbang. Ketika menghadapi masalah di alam bebas dengan kaku, maka kita akan menambah masalah yang ada. Beberapa waktu silam, kita sering mendengar berita bahwa telah terjadi musibah yang menimpa beberapa penggiat alam, seperti tersesat di gunung bahkan ada pula yang mengalami kecelakaan di alam rimba sampai meninggal dunia.

Hal ini biasanya terjadi karena keputusasaan tidak dapat mempertahankan hidup seperti mengalami hipotermia, kehabisan cadangan makanan, kelelahan dan pada akhirnya berakibat fatal. Dari hal ini dapat kita ambil pelajaran, ketika kita mendapat masalah saat sedang melakukan petualangan maka kita harus berfikir dengan dingin untuk mencari solusi dan memecahkan masalah tersebut. Apabila kita cepat putus asa saat menghadapi masalah tersebut, maka kita akan mendapatkan suatu hal yang fatal bahkan kefatalan tersebut dapat merenggut nyawa kita.

Mapala Hanya Mendaki Gunung ?

Persepsi yang berkembang di tengah-tengah masyarakat saat ini bahwasanya, Mapala selalu identik dengan pendakian gunung dan hanya ingin menunjukan eksistensi dengan foto-foto di puncak gunung. Banyak pemikiran-pemikiran negatif yang secara implisit mengatakan bahwa kelompok pecinta alam adalah sekumpulan orang hedonisme yang hanya mengutamakan memuaskan hasrat berpetualang dan bersenang-senang dengan melakukan pendakian gunung.

Hal ini tidaklah benar, memang kegiatan Mapala tidak terlepas dari sebuah pendakian gunung. Akan tetapi dewasa ini lembaga pengiat alam telah merambah keberbagai kegiatan terkait alam. Saat ini Mapala juga terlibat aktif dalam beberapa kegiatan lingkungan seperti konservasi hutan bakau, penanaman pohon, penelitian tingkat kerusakan lingkungan, menjadi relawan bencana alam, sosialisasi pelestarian lingkungan baik dengan seminar, maupun dengan terjun langsung ke lapangan untuk melakukan pengabdian masyarakat terkait dengan pelestarian alam dan lingkungan. Kegiatan ini juga bertujuan sebagai instrumentasi dalam rangka mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi.  Selain itu anggota Mapala juga kini telah aktif dalam berbagai kegiatan seperti jurnalistik dan advokasi terkait kelestarian alam.

Masa Depan Anggota Mapala Suram ?

Masa depan seorang anggota Mapala tidak seperti yang ada di benak kebanyakan orang. Seorang anggota Mapala telah digembleng secara mental maupun cara berfikirnya, alamlah yang menjadi chandradimukanya. Alam banyak mengajarkan banyak hal dan telah membentuk karakter para penggiat alam menjadi pribadi yang tangguh dan dapat mengambil keputusan dengan perhitungan yang matang. Banyak anggota Mapala yang telah sukses mulai berkarir sebagai pengusaha, berkarir di pertambangan, berkarir di perusahaaan perkebunan, aktifis lingkungan hidup, dosen dan masih banyak lagi yang lainnya. Secara pengalaman anggota Mapala banyak di tempat tugaskan di lapangan, baik disebuah perusahaan pemerintah maupun swasta. Saat ini beberapa anggota Mapala juga telah menjadi tokoh nasional di Indonesia seperti Ir. Joko Widodo Presiden Ke-7 RI dan Ganjar Pranowo, S.H, M.IP yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah.

(Oleh: Khomayo NgesNges. LSM Ragapala)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here