Menuju Kopi Lampung INC

Oleh : Ferry Ardiansyah,M.Sc

Pengamat Ekonomi dan Transportasi

RADARMETRO.COM – Jarum jam di tangan saya baru menunjukkan pukul 18.34 WIB, selepas
Maghrib dan saya baru pulang dari warung kopi seorang teman. Teman
yang ini baru membuka warung kopi didepan rumahnya sendiri yang
cukup asri. Rumah yang sekaligus berfungsi sebagai kantor dan tempat
warung kopi tadi berdiri. Warung Kopi ini dibangunnya dengan idealisme
tinggi. Hanya jual kopi roasting segar dan ingin mengedukasi konsumen
bahwa kopi Lampung adalah salah satu kopi terbaik didunia.

Tertarik dengan idealismenya tentang kopi Lampung, sayapun jadi
kepingin merasakan kopi Lampung racikan warung kopi nya. Singkat
cerita, sayapun sampai di warungnya. Segera Sang Barista dengan
terampil menyuguhi racikan berbagai macam jenis kopi yang beliau jual.
Dari Kopi Pagar Alam (Robusta), Kopi Gayo (Arabica), Kopi Toraja, dan
tentu saja Kopi Lampung (Robusta) sendiri dan berbagai jenis kopi
lainnya. Jadilah saya seorang Q Grader (Pencicip rasa kopi profesional
yang mendalami berbagai rasa kopi dan memberikan masukan komposisi
kopi yang berkualitas) dadakan, tanpa sertifikat dan hanya mengandalkan
sedikit pengalaman dan selera subjektif.

Singkat kata, walau sudah banyak mencicipi ragam kopi dipelbagai
negara, Saya kok tetep merasa Kopi Lampung (at least pada kualitas
@finest grade nya) benar-benar tidak berada dibawah jenis – jenis kopi
lainnya yang konon katanya sangat enak, tur mahal dan langka. Saya
pikir cukup rasional bila saya menilai Kopi Lampung adalah salah satu
jenis kopi level world class. Karena saya adalah salah satu dari banyak
pencinta kopi yang berpendapat demikian. Rasa pahit yang khas, level
kekentalan, aroma top note dan rasa basic note nya, dll semua terasa pas
dilidah. . Ga salah memang idealisme temen saya. Kopi Lampung
memang Joss Gandoss!!

So, bila demikan hebatnya potensi Kopi Lampung yang juga sarat dengan
sejarah dan kearifan lokalnya, pertanyaannya adalah bagaimana
membangun merk kopi Lampung menjadi World Class Brand??.

Industri kopi dunia menempatkan kopi Indonesia sebagai negara eksportir
nomor 4 terbesar dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia. Indonesia
berkontribusi 8% ekspor kopi dunia berdasarkan data kemenperin RI.
2017. Provinsi Lampung sendiri memproduksi sekitar 40% kebutuhan
kopi robusta nasional. Saya lebih condong kalau bicara World Class
berarti bicara kualitas dulu, baru kemudian kuantitas. Untuk mengejar
kuantitas masih butuh puluhan tahun kedepan mengejar ketertinggalan
dari Brazil yang sudah menyumbang 80% kopi dunia sejak tahun 1920.

Kalau bicara kualitas berarti harus ada parameter minimum standard yang
harus dipenuhi untuk layak diakui sebagai Coffee World Class. Di
Indonesia, bicara mutu standar produksi berarti bicara SNI (Standar
Nasional Indonesia). Di level Internasional berarti bicara ISO
(International Standard Organization), ISO 9000, ISO 9002, ISO 14000,
ISO 13000 dll. jadi setidaknya, Kopi Lampung harus memenuhi 2(dua)
standart itu. Oke, saya haqqul yakin hal itu pasti sudah dan harus
dilakukan eksportir kopi Indonesia.

Looohh, kalo sudah dilakukan.. yaa, kok nama Kopi Lampung masih
kalah terkenal dibanding Kopi Vietnam, Kopi Espresso AmeriKopi Gayo,
Kopi Kintamani dll??. Jangankan di negara orang, dinegara sendiripun
kopi Lampung masih menjadi pilihan opsional dari penggemar kopi.
Why?? Kalau dari proses pra sampai pasca produksi sudah bagus,

(Product), Harga sudah bersaing (Price), Wilayah pemasaran sudah
banyak (Place/Distribution), sepertinya bagian Strategi Promosinya yang
kurang tajam…kurang efektive. Yook kita bedah bareng…

STRATEGI BRANDING

Kopi Lampung berjenis Robusta, Kopi Kintamani, Kopi Sidikalang, kopi
Gayo, Kopi Jawa, kopi Flores, kopi Wamena dan kopi-kopi terkenal
lainnya dari Bumi Indonesia berjenis Arabica. Kopi Robusta ini secara
gengsi dianggap kopi kelas dua karena memang harganya lebih murah,
kuantitas produksinyapun lebih banyak (ingat hukum supply demand).
Bisa dibilang kopi arabica mempunyai taste yang lebih disukai beberapa
negara tujuan ekspor. Sementara pasar domestik lebih banyak
mengkonsumsi kopi robusta. Kenapa bisa begitu?? Saya belum punya
data preferensi tentang mengapa pasar domestik lebih banyak
mengkonsumsi kopi robusta di banding kopi arabica. Saya cenderung
mengatakan karena faktor harga yang lebih murah dan memang supply
produksinya lebih melimpah. Untuk faktor rasa (taste), saya tidak punya
data tentang itu.

Kopi Lampung sudah menguasai pasar domestik secara kuantitas,
bahkan menjadi bahan baku utama kopi instant produksi Nestle, brand
comsumer goods terkenal dari Perancis dan beberapa perushaan kopi
instant domestik seperti Torabika (PT. Torabika Eka Semesta), Good Day
Coffee (PT. Santos Jaya Abadi). Namun tetap saja nama Kopi Lampung
kurang bergema dibanding kopi lokal lainnya. Apanya yang salah??

Apakah perlu pabrikan – pabrikan tersebut menyebutkan nama Kopi
Lampung dalam kemasannya? Menurut saya, Absolutely Perlu!!
Pemerintah Provinsi/Kota dan Kabupaten Lampung perlu mendorong
upaya ke arah itu. Jangan hanya disebut di bagian Ingredients /komposisi
saja. Dorong regulasi yang mewajibkan produsen kopi mencantumkan
nama KL dibagian depan kemasan mereka. Paling tidak sebagai bagian
dari upaya pihak swasta memberikan kontribusi pada produk unggulan
daerah. Brand Kopi boleh beda, tapi jangan lupa cantumkan nama Kopi
Lampung di bagian depan packagingnya. Itu yg pertama, strategi
Branding Over The Line.

Agar sebuah produk mudah diingat dan dikenal, produk itu butuh
(Differentiate) yang menjadi ciri khusus. Bisa dibangun dari kemasan
(Packaging), bisa dari Tagline Branding, pun bisa dari rasa (flavour)
pembeda. Begitu pula strategi Branding Kopi Lampung. Penting untuk
dibuat berbeda dari pesaing, dan punya ciri khusus yang tidak dimiliki
jenis kopi lain. Saya cenderung memilih packaging yang unique sebagai
pembeda dari produk lain. Bisa dari bahan, content, design packaging
yang lebih eyecatching dan environmental friendly.

Kopi Lampung Incorporated

Era milenial ini, terjadi peningkatan pemanfaatan media sosial, chat
group, toko toko online dalam jaringan pemasaran usaha dari level mikro,
kecil, menengah maupun besar. Sayapun sering tergoda berbelanja
melalui IG, FB, Tokopedia, Bukalapak, Whatsapp Grup dll. Tidak butuh,
tidak perlu, Cuma karena dorongan impulsif saja akibat promosi yang
dilakukan para pelaku usaha secara online tadi. Saya juga sudah melihat
beberapa website, akun IG, FB dan Tokopedia yang berpromosi dan
menjual kopi lampung di laman mereka. Naah, pemasaran mereka
berjalan sendiri sendiri. Saya ingin melihat para pelaku usaha Kopi
Lampung ini bersatu dan disatukan dalam Payung Bersama dan wajib di
support / difasilitasi pemerintah. Seminimalnya dalam bentuk
komunitas. Inilah salah satu bagian terbentuknya Kopi Lampung
Incorporated. Inilah rumah bersama dari para pelaku usaha yang ingin
mengembangkan Kopi Lampung menuju level dunia. Kopi Lampung,Inc
akan menjadi tempat kolaborasi dan synergy para pelaku industri Kopi di
Lampung.

Saya pikir, peran Pemerintah dalam memfasilitasi pelaku usaha dalam
Kopi Lampung,Inc ini akan lebih efektive bila dalam bentuk Inkubator
Bisnis, disini mereka akan dipertemukan dan berdiskusi dengan para
profesional marketer tentang strategi pemasaran, from A to Z, dari
produksi, packaging, branding, jalur pemasaran, strategi promosi dll, Ada
pula bantuan kemudahan akses pembiayaan dan alat produksi
berteknologi

“One Brand For All”

Sejak lama saya iri bila melihat RM. Padang, Soto Lamongan, Gudeg
Jogja, Soto Betawi, Pempek Palembang dan lain lain. Saya iri akan
eksistensi dan kebanggaan identitas yang dengan bangga mereka
tuliskan di papan merk usaha mereka. Saya berandai – andai-andai
nantinya bila ada RM.Lampung, Warung Kopi Lampung atau apapun
yang ber identitas Lampung. Tentu akan sangat membanggakan!!

Kopi Lampung punya potensi untuk lahir kembali Icon unggulan Lampung
setelah lama mati suri. Saya membayangkan seandainya ribuan pelaku usaha industri warung kopi dan kafe di Lampung sepakat memakai satu
nama, satu brand, satu identitas yang akan membuat kopi lampung
menjadi Icon kota Lampung.

Bagaimana merealisasikan hal itu? Saya melihat peluang itu muncul bila
komunikasi dibangun antar komunitas pengusaha kopi. Hanya perlu
kehadiran komunitas inisiator. Sayapun yakin, bila ide ini sudah bergulir
dan menjadi wacana diantara komunitas komunitas pencinta kopi
Lampung, maka ide ini akan disetujui dan terealisasi. Apalagi bila Kepala
Daerah masing masing Kota, Kabupaten dan Provinsi Lampung
ibersama-sama ikut menggerakkan ide ini. Saya sudah melihat peranan
pemerintah sudah cukup banyak mempromosikan KL. Bahkan Sang
Gubernur Lampung (Ridho Ficardo) pun rela menjadi Endorser KL
diberbagai media ruang terbuka, media cetak dll.

Belum lagi bila AEKI (Asosiasi Ekspor Kopi Indonesia) Lampung pun ikut
berkomitment terlibat dalam merealisasikan strategi “one brand for all”
ini. Sinergy semua pihak akan lebih cepat mewujudkan Kopi Lampung
Incorporated. (*)

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten ini mengandung hak cipta dari RADARMETRO.COM