Tak Bisa Tidur karena BMKG

Saya terhenyak. Tadi malam. Saat sedang menyaksikan pertunjukan musik yang diselenggarakan Komunitas BPK OI Bandarlampung.

Penyebabnya bukan karena suara vokalis band yang tampil. Yang mirip sekali Iwan Fals itu.

Tetapi, karena adanya informasi yang masuk di WA saya tentang tsunami yang terjadi di pesisir Lampung dan Banten.

Selain link berita, video dan foto yang menggambarkan warga tengah mengungsi berseliweran di grup-grup WA yang ada saya di dalamnya.

Seraya menikmati pertunjukan musik, jari saya terus bermain di layar handphone untuk mencari informasi bagaimana kondisi terakhir di wilayah pesisir.

Saya memang sangat khawatir jika terjadi tsunami di Selat Sunda. Sebab, banyak saudara-saudara saya tinggal di wilayah pesisir. Terlebih di Kota Kalianda.

Di Kalianda, adik kandung ibu saya saja ada empat yang menetap di sana. Belum lagi saudara-saudara saya yang lain.

Tetapi, saat itu, saya agak tenang ketika membaca salah satu link berita yang memuat pernyataan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Dalam link tersebut, BMKG menegaskan yang terjadi hanyalah air laut pasang. Bukan tsunami.

Akhirnya saya menonton pertunjukan musik itu dengan tenang hingga pulang ke rumah pukul 00.00 WIB.

Saat menjelang tidur, saya kembali membuka WA. Untuk mengupdate informasi nasib warga pesisir akibat air laut pasang.

Tetapi, saat membuka salah satu link berita, saya kembali terhenyak. Penyebabnya ada ralat informasi dari BMKG yang menyatakan peristiwa tadi malam adalah tsunami. Bukan air laut pasang seperti sebelumnya yang disampaikan instansi tersebut.

Adanya ralat informasi BMKG itu membuat saya tak bisa tidur. Saya merasa heran. Kok bisa BMKG meralat informasi?

Jika kejadian itu belum terjadi, atau sifatnya perkiraan, saya menilainya wajar adanya ralat informasi.

Tetapi, bukankah peristiwa itu sudah terjadi? Mengapa sampai BMKG tidak bisa menggolongkan, mana air laut pasang, mana yang tsunami.

Apakah kemampuan alat yang dimiliki BMKG terbatas? Atau rusak? Jika iya, seharusnya pejabat instansi ini jangan asal “ceplos” ke publik.

Pastikan dahulu. Baru beri keterangan ke publik. Sebab, saat ini BMKG, yang dipercaya masyarakat untuk mengetahui informasi mengenai terjadinya gempa maupun tsunami.

Karenanya, keakuratan informasi sangat diharapkan masyarakat. Saya berharap ini menjadi pelajaran bagi BMKG, agar tidak sembarangan lagi mengeluarkan informasi.(*)

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten ini mengandung hak cipta dari RADARMETRO.COM