ULP Metro Tak Transparan Dalam Penentuan Pemenang Lelang

METRO – Proses lelang proyek di Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kota Metro yang dinilai tidak transparan oleh Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Kota Metro.

Gapensi yang mensinyalir ada aksi Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam lelang proyek di Bumi Sai Wawai. Salah satunya adalah tindakan ULP Metro yang menggugurkan peserta lelang proyek dengan alasan yang mengada ada. Bahkan ada satu kasus, yakni tidak dibeberkannya kekurangan peserta lelang sebuah proyek hingga membuat prosesnya ditunda. Lelang proyek diduga hanya formalitas.

Ketua Gapensi Kota Metro Erman Sanusi mengatakan, ada dugaan permainan dalam pemenang tender proyek di Kota Metro. Sepertinya ada upaya upaya pengkondisian terhadap paket paket pekerjaan yang dilelang. Indikatornya bisa dilihat contoh, gedung serba guna yang sudah dibangun. Itu pemenangnya adalah yang hanya turun satu persen dari pagu. Yang jauh dari pagu, malah digugurkan, dan ULP tidak membuka salahnya dimana.

“Salah satu contohnya adalah, penawaran kita lebih murah tapi kok yang dimenangkan yang penawarannya lebih mahal dari kita. Padahal asas diadakannya lelang adalah, agar lebih menguntungkan pemerintah. Tapi okey kita paham kalau mereka berharap pengerjaannya baik. Tapi seperti kita lihat proyek yang ada di Kota Metro? Sudah baik kah? Contohnya saja proyek flying fox yang saat ini jadi keluhan dan sorotan masyarakat. Kami ini orang asli Kota Metro, kalau bukan kita yang peduli dengan hal hal seperti ini, siapa lagi. Kami sudah berani menawarkan hingga 30 persen dari pagu, dan menjamin pekerjaan, tapi masih digugurkan,” ujar Erman saat konferensi pers di Warkop WAW Cabang Metro, Rabu (10/7/2019), Kemarin.

Dari keluhan yang dikatakan Gapensi, Ketua Pelaksana Harian (PLH) ULP Metro Yeri Ekhwan mengatakan proses lelang di ULP sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Pihaknya dalam menyeleksi para rekanan mengacu pada Perpres 16/2018 dan Peraturan Kepala LKPP tentang proses pengadaan barang dan jasa. Namun ketika ditanyakan kenapa kontraktor ini gugur dalam proses lelang. Pihaknya belum bisa memastikan kenapa ada pengguguran tersebut.

“Kawan-kawan disini melaksanakan tugas secara profesional. Jurinya adalah peraturan-peraturan yang ada. Semuanya tentu ada dasar kenapa dinyatakan gugur, seperti kelengakapan dokumen-dokumen persyarajat yang tidak mencukupi,” ujarnya, Kamis (11/7/2019).

Pihaknya dalam menyeleksi para rekanan mengacu pada Perpres 16/2018 dan Peraturan Kepala LKPP tentang proses pengadaan barang dan jasa.

Sebelumnya, beberapa perwakilan Gapensi Kota Metro mengadakan konferensi pers dan menanyakan proses lelang di ULP. Affandi Atma Negara yang juga Ketua KNPI Kota Metro mengakui adanya praktik kocok bekem yang mencolok di Kota Metro ini. Hal itu sangat disayangkan karena merujuk pada pengerjaan proyek yang ada, kualitasnya masih memprihatinkan.

“Lelang itu kan terbuka. Dan mereka menggugurkan tanpa ada evaluasi dan klarifikasi. Menggugurkan hanya sebelah pihak. Buat apa ada lelang tapi persyaratannya sudah dikondisikan. Dan menggugurkan yang seharusnya menguntungkan negara. Ada apa dengan Metro dalam hal ini pemerintahnya. Dan jika ada pemilihan rekanan seharusnya mereka tracking dong. Ini pedagang apa memang kontraktor. Banyak contohnya seperti Lapangan Samber,” tegasnya. (Yok)

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten ini mengandung hak cipta dari RADARMETRO.COM